“Oh Sonya…” (Catatan Bang Nas)

sonya-depari-ancam-polwan
“Saya anaknya Coks Pranata Pak, Pemrednya Metro One…jika ada yang salah mohon dibantu pak”…..kata anak ku kepada petugas Lalu Lintas yang sedang melakukan razia sambil menunjukkan surat surat kendaraannya”….”Pajak kenderaan kamu sudah mati ni….segera diperpanjang ya….Oh ya…Bapak mu temen saya…..hati hati ya…jangan ngebut ngebut….salam sama Bapak ya”……..
Aku sebagai Wartawan juga pernah mengaku adik kandung Alm Adnan Buyung Nasution ketika terbentur dalam pengurusan dokumen di satu instansi. Sepertinya petugas yang menangani urusan ku gentar juga mendengar nama Pengacara kondang itu, urusan ku dipermudah. Sekali waktu aku juga pernah mengaku adik sepupu Jendral Abdul Haris Nasution…Syukur urusan lancar. Sumpah aku sama sekali tak ada hubungan keluarga maupun kerabat dengan kedua nama besar itu.
Persoalan jual menjual nama keluarga, teman dekat, temannya mertua, tetangga, satu marga, satu perguruan, yang dianggap punya nilai jual sepertinya lazim dilakukan di negeri ini. Apa lagi jika ada salah satu keluarga kita yang berpangkat, pasti dijadikan kebanggan, disebut sebut dalam sisi dan ruang. Itu memang budaya orang Timur. Tujuannya agar tidak rumit, tidak bertele tele, biar cepat clear, urusan selesai dan tidak ada yang dirugikan. Prilaku berlagak anggar deking tapi disampaikan dengan sopan adalah hal biasa, tak ada yang perlu dikaji di situ.
Tapi bagai mana dengan Sonya, Sonya Ekarina Depari gadis berambut panjang siswa SMA Methodis Medan yang namanya melambung sejak sepekan terakhir ini?. Peristiwa di jalan Sudirman Medan 6 April kemarin adalah hari paling bersejarah baginya. Ditanggal itu menjadi catatan hitam yang tak akan pernah ia lupakan, dikenang selamanya.
Sonya dan beberapa rekan sekelas melampiaskan kegembiraan usai melaksanakan UN, berkonvoi dengan baju dicoret coret, sedikit ugal ugalan, maklum situasi demikian biasanya dilakukan remaja akil balig yang jiwanya masih labil. Petugas Polantas yang sedang melakukan razia memberhentikan laju kederaan mobil Honda Brio BK 1528 IG yang ditumpangi Sonya dan kawan kawan. Tak terima mobil mereka akan ditilang, Sonya berang, keluarlah kalimat yang tak pantas dialamatkan ke seorang Perwira Polisi Wanita Ipda Perida Panjaitan. Dari aksi mulut tercetuslah sepenggal kalimat yang terlontar dari bibir Sonya, menyebut nyebut nama keluarganya, Irjen Arman Depari, Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional. Tujuannya hanya untuk membela diri, mengangkatkan derajat kejiwaannya di mata kawan kawan. Salahkan Sonya..? ya memang….
Persitiwa singkat itupun secepat kilat menjadi topik pembahasan, media ramai ramai memberitakan, Sonya dibully habis habisan di media sosial. Beragam caci makian ditujukan kepada gadis berparas cantik yang punya catatan manis dibidang Cat Walk ini. Seantero jagad raya sepertinya mengutuk aksi dara yang masih polos ini. Fisikisnya diserang dari delapan penjuru angin, Sonya dihujat secara kasar, sekasar jiwanya yang celaka. Cukupkah..?

belum….!. Persitiwa naas itu harus ia tebus teramat mahal, ayahandanya meninggal seketika.
Ajal memang ditangan Tuhan, tapi setidaknya penyebab kematian Makmur Depari ayahandanya dikait kaitkan dengan peristiwa Sonya sang anak yang dibully habis habisan. Sedih memang, Sonya harus kehilangan ayahanda yang ia kasihi, buah dari kesilapan yang belum tentu ia sengaja lakukan. Tanyalah ke hati gadis manis itu, peristiwa kemarin bukanlah murni datang dari hati nuraninya, rasa ego sentris adalah milik manusia, tak terlepas terhadap anak yang masih polos sekelas Sonya.
Sebentar kita merenung, sepertinya tak bisa kita menghakimi ekspresi seseorang hanya dengan melihat bunyi kata-katanya, setidaknya kita harus perhatikan nadanya, nuansanya, dan letak masalahnya. Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung berbagai masalah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian manusia sehingga ia makin sanggup memahami orang lain.
Manusia punya ruang dalam hatinya untuk merasakan perih para gelandangan, getir para si miskin, duka para teraniaya. Tuhan tidak bertanya pada kita apakah kita mampu menolong para gelandangan atau tidak, tapi melihat apakah kita mencintai orang lemah atau tidak”
Sonya kini patah arang, jiwanya serasa kosong, apa dan siapa pun dia, dia adalah manusia tempatnya salah dan dosa”.
Jika cermin dirumah kita jatuh di lantai mar mar, pecah berkeping, cobalah datang ke air bening yang tenang. Berkacalah, cuci muka di air bebatuan itu, ini sisir rapikan rambut mu. Kuberikan setetes air bening dari ujung mataku ini buat mu Sonya….“Sini Ndok tak pangku”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *