Ribut Gojek, Goffset Solusi Buat Yang Tidak Betah Di Jalanan

gojek

Fenomena Gojek yang kini lagi marak, semakin merubah struktur berfikir kita tentang usaha jasa yang harus terus berinovasi dalam pelayanan. Dunia online semakin memudahkan kita dalam berinteraksi dan bertransaksi pada setiap sesi kebutuhan hidup. Kemunculan Gojek hanyalah satu contoh dari sekian banyak transaksi online (e-commerce) yang sudah ada.

Bagi sebagian orang yang pro dunia digital sekaligus ekonomi kerakyatan, Gojek dinilai sebagai perusahaan rakyat karena mempekerjakan rakyat dengan pembagian yang adil. Sistem sharing economy seperti Gojek ini kemudian menjadi solusi jitu buat yang ‘tidak betah’ menganggur. Gojek menjadikan hidup mereka yang tinggal dikota besar menjadi berpenghasilan lebih tinggi sekaligus mengurangi pengeluaran untuk parkir, izin, sewa ini dan itu. Cukup mendaftarkan diri di aplikasi dan mereka langsung bisa cari penumpang.

Goffset Sebagai Solusi

Kini semua orang bebas membuat platform usahanya masing-masing tanpa harus berurusan dengan perizinan, lapak, tenaga kerja, serta lain sebagainya yang ujung-ujungnya memberi kebebasan dan kesempatan berusaha hanya kepada pemilik modal besar.

Dengan begini, sistem ekonomi kapitalis yang selama ini menghasilkan banyak ketimpangan sosial, kerusakan mental, sudah di’rusak’ dengan cara yang kreatif demi membentuk sebuah sistem perekonomian yang lebih baik. Gojek telah memberi banyak pelajaran, diantaranya bahwa kita sebenarnya bisa memanfaatkan aset-aset kita yang menganggur (Iddle Asset) kemudian menjadikannya lebih bermanfaat sekaligus mendatangkan keuntungan profit. Lihat contoh desain afkar berastagi disini

Mengikuti jejak Gojek yang dijalanan, Goffset atau singkatan dari Go Offset adalah alternative solution buat yang tidak betah dijalanan. Status Goffset bukan ‘mempekerjakan’ seperti Gojek yang tetap dinilai sebagai profit machine (mesin keuntungan) bagi kaum kapitalis. Begitu mendaftar Goffset, kita langsung menjadi owner atau pemilik usaha. Mulai dari menjadi pemilik online platform, (bahkan untuk Goffset tanpa registrasi aplikasi). Goffset bisa dimanfaatkan oleh orang/desainer yang punya aset otak yang ‘menganggur’ karena tidak ada lapak toko. Goffset memanfaatkan media online dalam mengkampanyekan produk desainnya tetapi tetap bertransaksi secara manual, artinya calon konsumen yang ditarget oleh sang desainer hanya yang berada dalam jangkauan sang desainer. Meski tidak menutup kemungkinan bagi yang berada diluar jangkauannya. Tetapi akan lebih terpercaya bila langsung berjumpa. Karena dalam hal ini kita juga akan berurusan dengan orang-orang yang masih setengah hati dalam ‘mempercayai’ dunia maya. Lihat contoh video afkar berastagi disini

Setelah bertransaksi secara manual dengan konsumen, desainer langsung menghubungi pemilik mesin cetak untuk melimpahkan tugas berikutnya, yaitu mencetak hasil desain. Setelah selesai dicetak, desainer kemudian mengantarkannya kekonsumen. Satu transaksi telah berhasil. Otak yang ‘menganggur’ itu kini telah menghasilkan.

Goffset

Lantas Dimana Letak Sharing Economy-nya?

Sang desainer bisa menjadikan keluarga atau teman disekitar kita sebagai wealth distributor (distributor rezeki), dengan kesepahaman untuk saling membantu akan lebih meningkatkan value kita sebagai seorang desainer yang memang recomended.

Memang terkesan lucu, tetapi bagi seorang desainer ini adalah persoalan yang sangat serius. Untuk membuka sebuah usaha offset yang menetap dipinggir jalan, paling tidak harus memiliki modal awal kisaran puluhan juta rupiah. Belum lagi sebagian ‘isi otak’-nya harus memikirkan seluruh isi toko, karyawan, mesin yang rusak. Mungkin belum sampai kesitu, sang desainer akan lebih memilih menjadi karyawan yang bergaji tetap setiap bulannya, tanpa harus berfikir besok mau makan apa. Disini, sebuah idealisme sudah tidak berarti apa-apa. Baca dongeng afkar berastagi disini

2 thoughts on “Ribut Gojek, Goffset Solusi Buat Yang Tidak Betah Di Jalanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *