Oleh-Oleh Berastagi Dibeli Tamu Dari Mancanegara, “Kami Ingin Seperti Bolu Meranti…”

gt

“Tidak ada kayu, akarpun pun jadi..”

Mungkin inilah peribahasa yang tepat untuk inisiasi ini. Tidak ada yang khas, manisan pun jadi. Inilah yang dilakukan Iwan, seorang fotografer keliling yang memiliki usaha sampingan yaitu menjual manisan buah pala yang dikemas cantik. Manisan ini khusus didatangkannya dari Aceh untuk dijual di tempat-tempat wisata. Karena menurut Iwan, di Aceh sendiri manisan buah pala ini belum mendapatkan pengakuan sebagai makan khas, sehingga Iwan berinisiasi untuk menjadikannya sebagai kuliner Berastagi yang dijual di pasar wisata sebagai oleh-oleh bagi tamu yang ingin membawa pulang jajanan dari Berastagi.

Selain itu, manisan buah pala memiliki pengawet alami. Yaitu gula asli. Sehingga makanan ini akan bertahan hingga berbulan-bulan asal tidak terkena air. “Tetapi penjualan memang agak terkendala manakala calon pembeli adalah orang-orang yang berpenyakit diabetes. Mereka akan shock berat melihat manisan,”Kisah Iwan sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Menanggapi adanya komentar miring tentang produk yang dijualnya ini mengenai ke-khas-an produk ini, Iwan menanggapi santai,”Kalau nama kan bisa apa saja. Produk inikan sama seperti kaos yang bertuliskan ‘BERASTAGI’, yang dijual di tempat wisata itu. Tulisannya bisa aja “BERASTAGI” padahal kaosnya dari pulau Jawa.

“Lagian kita juga nggak ada tulis ‘khas’ karena memang bukan khas Berastagi. Belum lagi kalau kita belajar dari kesuksesan Bolu Meranti Medan, apanya yang khas Medan coba…?!,”Tegasnya lebih lanjut. Tapi setiap orang yang datang ke Medan , yang dicari adalah Bolu Meranti.

ol

Untuk memenuhi target penjualan yang dibuatnya sendiri, Iwan juga mencari-cari produk lain yang bisa dan layak dijual kepada visitors yang datang ke Berastagi. Dia menjual Kopi Sidikalang, Syrup Markisah. Ini semua dilakukannya untuk menjawab mimpinya memiliki sebuah outlet khusus oleh-oleh khas Berastagi. Produk-produk itu juga dijualnya melalui layanan online.

Meskipun belum sampai menjadi komoditas ekspor, Kotak Oleh-Oleh Berastagi yang isinya manisan buah pala ini mungkin sudah ada yang menjadi sampah di luar negeri. Artinya mungkin sudah ada yang terbang dan sampai ke luar negeri. Karena memang ada beberapa tamu asing yang membelinya untuk dijadikan oleh-oleh. “Kalau tamu lokal domestik, ya sudah tidak terhitung,”Lanjut Iwan.

Dimulai dari menjual keliling secara eceran, dititipkan ditempat-tempat wisata untuk dijual, hingga masuk ke hotel-hotel, kini omset penjualan Iwan sudah mencapai jutaan rupiah. Namun Iwan masih belum puas, karena dia masih sangat berharap adanya investor yang mau join untuk ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini.

“Minimal yang dijual benar-benar hasil bumi Berastagi lah… Misal keripik buah, karena buah-buahan dan sayuran itu kan komoditas utama Tanah Karo, kalau manisan ini kan sifatnya alternatif. Daripada nggak ada yang dijual. Karena pada prinsipnya setiap minggu orang-orang datang untuk membuang uang ke Berastagi, Kenapa tidak kita tangkap uang itu,”Ungkap Iwan yang kelihatannya sudah sangat antusias tentang peluang usaha kuliner khas Berastagi ini.

oleh

“Berastagi ini seperti Kota Malang kalau di Jawa, hasil bumi nya juga nyaris sama. Kenapa tidak ada pemodal yang berfikir kesitu ya… Padahal paket alat Friyer itu cuman 20 juta. Sumber daya alam yang akan diproduksi melimpah. Kalau harga tersebut dibanding dengan frekuensi tamu ke Berastagi yang terus meningkat, harga 20 juta ini sebenarnya sudah sangat murah. Omset penjualan manisan yang ‘bukan’ khas dan dijauhi para ‘pemuja kesehatan’ saja sudah mencapai jutaan rupiah, bagaimana kalau yang khas. Pasti nilai jualnya akan lebih tinggi,”Lanjutnya lagi sambil menerawang jauh membayangkan akan dihubungi pemodal yang membaca posting ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *