Istiqomah Menunggu …

obor

Malam itu mereka semua berdiri diam dihalaman rumah masing-masing.  Ada yang berbalut sarung dileher, ada yang menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Ada pula yang melipat tangannya didada sambil menciutkan bahunya. Mereka kedinginan. Tatapan mereka tak tentu arah, ada beberapa titik lampu minyak yang dapat dilihat dengan jelas menempel sempurna didinding tepas rumah-rumah mereka. Lampu minyak yang cahayanya lebih besar dipasang dipagar halaman memunculkan bayangan tiap keluarga yang berada dihalaman rumah masing-masing seperti raksasa yang terus mengikuti semua  gerak gerik mereka, selebihnya gelap.

Jauh diatas kepala mereka juga tidak bertaburan bintang. Bulan juga entah kemana.  Desiran angin menambah hening suasana malam itu. Tapi tidak dengan anak-anak. Mereka sama sekali tidak peduli. Mereka berlari-lari, tertawa, saling mengejek, saling mengejar, aktifitas mereka pada alam dimalam itu sama seperti malam-malam lainnya. Tidak ada yang istimewa. Yang ada hanya kegembiran.

“Hei, anak-anak…Diam kalian!!”Tiba-tiba terdengar suara lelaki dewasa yang membentak anak-anak itu. “Nanti  yang kita tunggu tidak datang karena tidak terdengar suaranya”.

Anak-anak itu terdiam, tapi hanya sebentar. Setelah itu mereka kembali saling bercanda.

“Hei, apa kalian tidak bisa mendengar?!!”

“Ini sudah larut malam, sebaiknya kalian semua diam!!”

“Lihat ini, seharusnya sebelum tangan ini dibasahi embun malam dia sudah datang,”Lanjut Kek Sobirin sambil mengeluarkan tangannya dari lipatan sarungnya, keluar pula satu bayangan tangan di dinding rumah Kek Sobirin. Anak-anak tetap cengingisan.

“Diam kalian atau nanti kupukul…!!”.

Kali ini anak-anak itu benar-benar terdiam. Kek Sobirin memang orang yang paling dituakan dikampung itu. Segala ucapannya selalu dijadikan pegangan oleh warga kampung. Kalau dimalam-malam sebelumnya, Kek Sobirin selalu memberi kepastian tentang waktu kedatangan yang dinanti. Tidak pernah luput. Tetapi tidak untuk malam ini. Beberapa malam sebelumnya sudah ada sebagian warga kampung yang datang menanyakan tentang jadwal ini. Tapi Kek Sobirin diam saja. Ditanya kenapa diam, Kek Sobirin tetap diam. Matanya berkaca-kaca. Sehingga warga kampung enggan menanyakannya kembali.

Malam itu menjadi malam penantian yang panjang…

Sampai lewat sepertiga malam, ayam jantanpun belum ada yang berkokok. Mereka tidak mencium bau asap kayu dapur, tidak medengar cipratan air orang yang membasuh wajah berwudhu’ untuk sholat malam. Sepertinya mereka ikut menunggu… Menunggu entah apa, entah siapa…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *